Laman

Coffe Break with Hafidz Part 1: "Mama, ni..."

Pagi yang berwarna. Seluruh penghuni rumah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Aku sibuk bergelut dengan bumbu dan bahan masakan di dapur. Suamiku sibuk dengan tugas kantornya. Sedang Hafidz, jagoan kecilku yang baru berusia 20 bulan, asyik membongkar pasang balok susun di teras rumah ditemani anak tetangga sebelah rumah.
Tiba-tiba Hafidz dengan roman muka yang serius, tergesa masuk ke rumah dan langsung menuju kamar tidur. Ehm, ada apa, ya. Tidak biasanya dia seperti itu. Sesaat terbesit untuk mengikutinya ke kamar. Tapi niat itu aku urungkan demi melihatnya keluar dari kamar tidur. Aku terperangah. Ooo, apa yang dibawanya?
Hafidz tampak repot menyeret kain sinjang (kain batik yang biasa dikenakan ibu-ibu di pedesaan). Langkahnya pasti menuju teras.
“Loh, kainnya buat apa, Hafidz?” sapa suamiku.
Tapi hanya dijawab oleh angin yang menyelinap melalui pintu depan.
“Sttt, biarkan saja, Yah. Bunda ingin tahu apa yang akan dilakukan Hafidz dengan kain itu,” bisikku pada suamiku yang akan mencegah Hafidz.
Sejujurnya aku juga sudah ingin mencegah Hafidz membawa keluar kain itu. Karena yang terbayang olehku pasti kain itu akan dipakai untuk main dan pasti akan kotor, kan. Itu sama saja dengan bertambah lagi satu kain yang antri untuk dicuci. Oh, pekerjaanku sepertinya belum akan selesai dalam waktu dekat.
Tapi aku berusaha menahan diri. Biasanya Hafidz selalu memberikan kejutan-kejutan. Aku mendekat dan berdiri di pintu depan karena penasaran. Hmm, kira-kira kejutan apa lagi yang akan dipersembahkan oleh jagoanku.
Benar saja, setelah sampai di teras, Hafidz memunguti balok susun yang terjatuh di tanah depan teras. Dan apa yang dilakukannya? Dia mengelap balok-balok itu dengan menggunakan kain yang baru saja diambilnya dari kamar. Aku dan suamiku saling pandang dan disusul oleh tawa kami berdua.
“Hafidz, kenapa baloknya, Sayang?” tanyaku sembari menghampirinya.
“Mama, ni...,” jawabnya seraya menunjukkan balok yang kotor dan basah. Kata bunda memang masih sulit diucapkan bagi Hafidz, jadilah dia mengganti bunda dengan mama. But, it’s ok myboy.
Memang tadi malam hujan dan menyisakan tanah yang basah.
“Oh, Hafidz mau membersihkan balok-balok ini, ya.”
“He-eh,” jawabnya.
“Pintarnya anak Bunda, tapi mengelap baloknya bukan dengan kain ini, Sayang. Kain ini digunakan untuk selimut. Kalau Hafidz mau mengelap balok, pakai kain lap ini,” ujarku sembari menyodorkan kain lap padanya.
“Ooo,” mulutnya manyun tapi menerima kain lap yang aku sodorkan dan meneruskan kegiatannya mengelap balok susunnya.
Ah, tak terbayang jika saja aku menuruti nafsuku untuk mencegah Hafidz mengambil kain dari kamar. Tentu yang terjadi saat ini adalah tangis pilunya yang memecah rumah. Pasti tak akan terlihat kecerdasannya. Terima kasih, Allah, sudah menambah kuota sabarku. Terima kasih, Allah, telah menganugerahkan laki-laki lucu nan pandai di tengah-tengah keluarga kecil kami.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar