Pagi yang berwarna.
Seluruh penghuni rumah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Aku sibuk
bergelut dengan bumbu dan bahan masakan di dapur. Suamiku sibuk dengan tugas
kantornya. Sedang Hafidz, jagoan kecilku yang baru berusia 20 bulan, asyik membongkar
pasang balok susun di teras rumah ditemani anak tetangga sebelah rumah.
Tiba-tiba Hafidz
dengan roman muka yang serius, tergesa masuk ke rumah dan langsung menuju kamar
tidur. Ehm, ada apa, ya. Tidak biasanya dia seperti itu. Sesaat terbesit untuk
mengikutinya ke kamar. Tapi niat itu aku urungkan demi melihatnya keluar dari
kamar tidur. Aku terperangah. Ooo, apa yang dibawanya?
Hafidz tampak repot
menyeret kain sinjang (kain batik yang biasa dikenakan ibu-ibu di
pedesaan). Langkahnya pasti menuju teras.
“Loh, kainnya buat
apa, Hafidz?” sapa suamiku.
Tapi hanya dijawab
oleh angin yang menyelinap melalui pintu depan.
“Sttt, biarkan saja,
Yah. Bunda ingin tahu apa yang akan dilakukan Hafidz dengan kain itu,” bisikku
pada suamiku yang akan mencegah Hafidz.
Sejujurnya aku juga
sudah ingin mencegah Hafidz membawa keluar kain itu. Karena yang terbayang
olehku pasti kain itu akan dipakai untuk main dan pasti akan kotor, kan. Itu
sama saja dengan bertambah lagi satu kain yang antri untuk dicuci. Oh, pekerjaanku
sepertinya belum akan selesai dalam waktu dekat.
Tapi aku berusaha
menahan diri. Biasanya Hafidz selalu memberikan kejutan-kejutan. Aku mendekat
dan berdiri di pintu depan karena penasaran. Hmm, kira-kira kejutan apa lagi
yang akan dipersembahkan oleh jagoanku.
Benar saja, setelah
sampai di teras, Hafidz memunguti balok susun yang terjatuh di tanah depan
teras. Dan apa yang dilakukannya? Dia mengelap balok-balok itu dengan
menggunakan kain yang baru saja diambilnya dari kamar. Aku dan suamiku saling pandang
dan disusul oleh tawa kami berdua.
“Hafidz, kenapa
baloknya, Sayang?” tanyaku sembari menghampirinya.
“Mama, ni...,”
jawabnya seraya menunjukkan balok yang kotor dan basah. Kata bunda memang masih
sulit diucapkan bagi Hafidz, jadilah dia mengganti bunda dengan mama. But,
it’s ok myboy.
Memang tadi malam
hujan dan menyisakan tanah yang basah.
“Oh, Hafidz mau
membersihkan balok-balok ini, ya.”
“He-eh,” jawabnya.
“Pintarnya anak
Bunda, tapi mengelap baloknya bukan dengan kain ini, Sayang. Kain ini digunakan
untuk selimut. Kalau Hafidz mau mengelap balok, pakai kain lap ini,” ujarku
sembari menyodorkan kain lap padanya.
“Ooo,” mulutnya
manyun tapi menerima kain lap yang aku sodorkan dan meneruskan kegiatannya
mengelap balok susunnya.
Ah, tak terbayang jika
saja aku menuruti nafsuku untuk mencegah Hafidz mengambil kain dari kamar.
Tentu yang terjadi saat ini adalah tangis pilunya yang memecah rumah. Pasti tak
akan terlihat kecerdasannya. Terima kasih, Allah, sudah menambah kuota sabarku.
Terima kasih, Allah, telah menganugerahkan laki-laki lucu nan pandai di
tengah-tengah keluarga kecil kami.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar